Jakarta, Ronggolawe News — Operasi Ketupat 2026 disiapkan bukan sekadar sebagai agenda rutin pengamanan arus mudik dan balik Lebaran.
Kakorlantas Polri Irjen Agus Suryonugroho menegaskan arah baru: perubahan wajah Polantas secara menyeluruh, dari pendekatan represif menuju kultur humanis, melayani, namun tetap tegas dan berwibawa.
Berbekal keberhasilan pengamanan Natal dan Tahun Baru serta apresiasi Presiden RI atas kinerja Korlantas pada Lebaran 2025, Irjen Agus meminta jajarannya tidak berpuas diri.
Menurutnya, pengamanan Lebaran bukan semata mengatur lalu lintas, melainkan memastikan kehadiran negara dirasakan langsung oleh masyarakat di jalan raya.
“Kita hadir melayani, kita hadir melindungi. Pengamanan mudik itu soal rasa aman dan sukacita masyarakat merayakan Idul Fitri,” tegasnya di Pos Induk Cikampek, Rabu (14/1/2026).
Polantas 2026: Humanis, Tidak Transaksional
Irjen Agus secara terbuka menyatakan tekadnya mengubah wajah Polantas di tahun 2026. Ia menolak model kepolisian lalu lintas yang hanya identik dengan penindakan, apalagi praktik transaksional di lapangan.
“Kita tidak bangga menindak, tapi bangga ketika masyarakat tertib karena kesadaran,” ujarnya.
Baginya, senyum Polantas bukan sekadar gestur, melainkan filosofi pelayanan. Tegas dalam aturan, bijaksana dalam tindakan, dan humanis dalam komunikasi. Ia bahkan menekankan satu larangan mutlak: Polantas tidak boleh marah di lapangan.
“Hadapi apa pun situasinya, senyumi. Kalau salah, tindak tegas. Tapi tidak transaksional,” katanya mengingatkan.
Pelayanan Maksimal di Jalur Arteri hingga Rest Area
Dalam konteks Operasi Ketupat, Kakorlantas menuntut pelayanan optimal di seluruh simpul perjalanan: jalan arteri, tol, hingga rest area. Ia meminta jajaran memastikan pengguna jalan merasa aman, terbantu, dan dihargai sebagai warga negara, bukan sekadar objek penertiban.
Instruksi ini sekaligus menjadi evaluasi diam-diam atas wajah Polantas di masa lalu, yang kerap menuai kritik publik.
Revolusi Udara: Drone Jadi Mata Utama
Tak hanya soal pendekatan humanis, Irjen Agus juga menekankan lonjakan pemanfaatan teknologi. Tahun 2026 disebutnya sebagai momentum
“revolusi udara”, dengan drone sebagai alat utama pemantauan lalu lintas dan penegakan hukum.
Drone diwajibkan beroperasi minimal tiga kali dalam seminggu, menjadi basis data utama pemantauan kamseltibcarlantas, menggantikan ketergantungan pada CCTV statis.
“Dasar kita bicara lalu lintas ke depan adalah drone dan teknologi K3I, bukan sekadar CCTV di titik tertentu,” tegasnya.
Ia bahkan membuka kemungkinan perluasan pengawasan hingga jalur penyeberangan laut, menandai pendekatan lalu lintas yang lebih terintegrasi dan berbasis data.
Catatan Redaksi: Janji Kultur Harus Terlihat di Jalan
Seruan Kakorlantas tentang Polantas humanis dan melayani adalah narasi besar yang patut diapresiasi.
Namun publik tidak menilai dari pidato atau slogan, melainkan dari pengalaman nyata di jalan raya—di tengah macet, razia, dan situasi darurat.
Operasi Ketupat 2026 akan menjadi uji awal: apakah revolusi wajah Polantas benar-benar terwujud, atau kembali berhenti di tataran jargon.
Reportase: Media Ronggolawe News
Mengabarkan arah kebijakan, mengawal realisasi.






























