Tuban, Ronggolawe News — Status Kabupaten Tuban sebagai salah satu daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Jawa Timur kembali menjadi sorotan serius. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 mencatat, angka kemiskinan di Tuban berada di kisaran 14,36 hingga 14,91 persen, menempatkannya di posisi lima terbawah di provinsi tersebut.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: bagaimana daerah dengan kekayaan sumber daya alam melimpah, keberadaan industri besar, serta potensi pertanian dan perikanan yang kuat, masih bergulat dengan persoalan kemiskinan?
Anggota DPRD Jawa Timur dari Fraksi PDI Perjuangan, Ony Setiawan, menilai bahwa persoalan tersebut tidak bisa dilihat secara sederhana. Menurutnya, Tuban memiliki hambatan struktural yang selama ini menghambat laju pertumbuhan ekonomi daerah.
“Secara geografis, Tuban berada di ujung barat laut Jawa Timur. Jarak dari pusat pertumbuhan ekonomi dan keterbatasan konektivitas transportasi membuat investasi tidak masuk secara optimal,” ujarnya.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada rendahnya penyerapan tenaga kerja serta belum maksimalnya pengelolaan potensi lokal. Padahal, sektor pertanian—terutama komoditas jagung—dan sektor perikanan memiliki kapasitas besar untuk menjadi tulang punggung ekonomi daerah.
Namun demikian, Ony menegaskan bahwa Tuban tidak kekurangan potensi. Justru sebaliknya, daerah ini memiliki peluang besar untuk bangkit jika strategi pembangunan diarahkan secara tepat.
“Oase Semu” Industri Besar
Menariknya, keberadaan industri besar di Tuban, seperti kilang minyak dan pabrik semen, dinilai belum mampu memberikan dampak signifikan terhadap penurunan angka kemiskinan. Ony menyebut fenomena ini sebagai “oase semu”.
Industri padat modal cenderung tidak menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah besar, terlebih jika kualitas sumber daya manusia (SDM) belum sesuai dengan kebutuhan industri tersebut.
“SDM kita masih banyak yang berpendidikan rendah dan belum memenuhi kualifikasi industri besar. Di sisi lain, sektor tambang juga tidak bisa diandalkan selamanya karena sifatnya tidak terbarukan,” jelasnya.
Data BPS per Maret 2025 bahkan mencatat sekitar 168,9 ribu jiwa di Tuban masih berada di bawah garis kemiskinan. Angka ini menunjukkan bahwa pendekatan pembangunan yang ada saat ini perlu dievaluasi secara menyeluruh.
Arah Baru: Hilirisasi Agroindustri
Sebagai solusi strategis, Ony mendorong transformasi ekonomi Tuban menuju sektor agroindustri. Model ini dinilai lebih sesuai dengan karakteristik masyarakat lokal yang mayoritas bekerja sebagai petani dan nelayan.
Agroindustri tidak hanya berhenti pada produksi bahan mentah, tetapi juga mencakup proses pengolahan hingga pemasaran, sehingga mampu menciptakan nilai tambah ekonomi.
Ia memetakan pengembangan ekonomi Tuban ke dalam dua kawasan utama:
Wilayah pesisir, difokuskan pada industri pengolahan hasil laut untuk meningkatkan nilai jual produk nelayan.
Wilayah tengah, diarahkan pada pengolahan hasil pertanian seperti jagung menjadi pakan ternak (feedmill) dan produk turunan lainnya.
“Agroindustri adalah kunci karena mampu menciptakan nilai tambah dan menjaga stabilitas harga di tingkat petani,” tegas Ony.
Dampak Krisis Global dan Ancaman Pengangguran
Di tengah kondisi tersebut, tekanan ekonomi global turut memperburuk situasi. Kenaikan harga energi, inflasi, serta ketidakpastian pasar global berdampak langsung pada daya beli masyarakat.
Fenomena ini juga berimbas pada meningkatnya
pengangguran akibat berkurangnya aktivitas produksi dan investasi. Banyak perusahaan melakukan efisiensi, bahkan pemutusan hubungan kerja (PHK).
Kelompok yang paling rentan terdampak adalah anak muda dan pekerja dengan tingkat pendidikan rendah. Mereka sering kali kesulitan bersaing di pasar kerja formal dan akhirnya beralih ke sektor informal dengan pendapatan tidak stabil.
Mendorong Wirausaha Muda Berbasis Pertanian
Sebagai langkah mitigasi, Ony menekankan pentingnya mendorong lahirnya wirausaha muda di sektor pertanian dan agroindustri. Generasi muda dinilai memiliki peran penting dalam mengubah wajah ekonomi Tuban ke depan.
Dengan pendekatan agribisnis modern, sektor pertanian tidak lagi dipandang sebagai pekerjaan tradisional, melainkan sebagai peluang usaha yang menjanjikan.
Rantai agribisnis yang mencakup penyediaan bibit, proses budidaya, pengolahan hasil, hingga pemasaran, membuka peluang besar bagi penciptaan lapangan kerja baru.
“Kalau anak muda masuk ke sektor ini, dampaknya besar. Tidak hanya mengurangi pengangguran, tapi juga bisa menekan angka kemiskinan,” ungkapnya.
Pentingnya Bauran Program Terpadu
Ony juga menekankan bahwa pengentasan kemiskinan tidak bisa dilakukan secara parsial. Diperlukan bauran program yang menyentuh berbagai aspek, mulai dari peningkatan kualitas SDM, reformasi birokrasi, hingga pembangunan infrastruktur dasar.
Akses terhadap pendidikan, kesehatan, air bersih, listrik, dan jalan menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas masyarakat.
Selain itu, dukungan terhadap UMKM, akses permodalan, serta penguatan pasar lokal juga harus menjadi prioritas pemerintah.
Optimisme Kebangkitan Tuban
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Ony tetap optimistis bahwa Tuban mampu bangkit dan kembali berjaya seperti masa lalu.
Menurutnya, kunci utama terletak pada kolaborasi antara pemerintah pusat, provinsi, dan daerah, serta dukungan penuh terhadap potensi lokal.
“Tuban pernah berjaya sebagai daerah agraris. Spirit itu harus dibangkitkan kembali. Dengan dukungan yang tepat, masyarakat bisa lebih optimis untuk bangkit,” tegasnya.
Ia juga memastikan bahwa pihaknya di Komisi B DPRD Jawa Timur akan terus mendorong kebijakan yang berpihak pada daerah-daerah pinggiran seperti Tuban, agar tidak tertinggal dalam arus pembangunan.
Pada akhirnya, masa depan Tuban tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya yang dimiliki, tetapi oleh bagaimana potensi tersebut dikelola secara tepat dan berkelanjutan.
Jika hilirisasi agroindustri, penguatan SDM, serta kebijakan yang berpihak pada rakyat dapat berjalan seiring, maka Tuban bukan hanya mampu keluar dari jerat kemiskinan, tetapi juga kembali menjadi salah satu daerah yang diperhitungkan di Jawa Timur.
Reportase Media Ronggolawe News mengabarkan





















