Oleh: Anto Sutanto
Pemimpin Redaksi Media Ronggolawe News
Demo selalu kita pahami sebagai ruang konstitusional warga negara untuk bersuara. Namun, alih-alih menjadi jembatan penyampaian aspirasi, tak jarang aksi protes justru berakhir dengan duka. Nyawa melayang, air mata tumpah, dan bangsa ini lagi-lagi dipaksa bercermin: apakah demokrasi kita benar-benar sehat?
Kasus yang baru saja terjadi meninggalkan luka mendalam. Seorang anak muda, Affan Kurniawan, yang mestinya pulang membawa beras untuk ibunya, kini justru pulang dalam kain kafan. Sebuah ironi yang menyesakkan dada. Demo yang semestinya menjadi panggung perlawanan terhadap ketidakadilan berubah menjadi tragedi kemanusiaan.
Pertanyaannya, sampai kapan rakyat harus kehilangan anak-anak terbaiknya hanya karena menyuarakan kebenaran? Sampai kapan aparat menjawab teriakan rakyat dengan kekerasan? Dan sampai kapan negara menutup mata terhadap penderitaan yang mereka timbulkan sendiri?
Kita tidak boleh menormalisasi kehilangan. Setiap nyawa yang hilang adalah alarm moral bagi penguasa. Affan bukan sekadar nama di nisan kayu. Ia adalah simbol dari jeritan rakyat kecil, dari ibu yang menunggu anaknya pulang membawa beras, dari keluarga yang kini kehilangan tulang punggung harapan.
Media Ronggolawe News menegaskan: demokrasi tanpa ruang aman bagi rakyatnya adalah demokrasi yang cacat. Aparat yang menindas rakyatnya adalah pengkhianat amanat reformasi. Dan negara yang membiarkan warganya mati tanpa keadilan adalah negara yang sedang menggali kuburnya sendiri.
Kita menuntut evaluasi menyeluruh, pertanggungjawaban yang jelas, dan perubahan sistemik agar tragedi serupa tak lagi terulang. Karena bangsa yang besar bukan diukur dari gedung megah atau jalan tol panjang, melainkan dari seberapa serius ia menjaga satu nyawa rakyatnya.
Hari ini Affan berpulang. Esok, jangan sampai ada Affan-Affan lain yang menyusul hanya karena bersuara.
Redaksi menundukkan kepala. Bukan hanya berduka, tetapi juga bersuara.
Puisi untuk Affan Kurniawan
Oleh: Anto Sutanto
Pemimpin Redaksi Media Ronggolawe News

Affan…
Langkahmu terhenti di persimpangan takdir,
di jalan sunyi tempat waktu tak kembali.
Kau pergi membawa mimpi,
meninggalkan jejak cinta di pelukan ibu.
Malam itu—
sebutir harap masih digenggamnya,
ia menanti engkau pulang membawa beras,
namun yang pulang hanyalah kabar duka,
menusuk hati, merobek jiwa.
Affan…
Namamu kini terpatri di batu nisan,
tapi kenanganmu hidup di dada kami.
Engkau anak bangsa,
yang gugur terlalu cepat,
namun abadi dalam doa.
Tenanglah, Affan…
di ranah keabadian,
tempat tiada lagi lapar,
tempat tiada lagi air mata.
Doa kami mengiringi,
cinta kami tak pernah mati.