Jakarta, Ronggolawe News — Pemerintah memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak berhenti di bulan Ramadhan.
Di tengah kekhawatiran publik soal efektivitas dan kualitas distribusi makanan saat puasa, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menegaskan: negara memilih beradaptasi, bukan menunda.
Berbeda dari hari biasa, skema MBG selama Ramadhan 2026 dirancang dengan pendekatan take home system.
Makanan dibagikan saat jam sekolah, lalu dibawa pulang oleh peserta didik untuk dikonsumsi saat berbuka puasa.
Skema Ramadhan: Distribusi Jalan, Pola Konsumsi Diubah
Menurut Dadan, kebijakan ini merujuk pada pengalaman tahun sebelumnya di wilayah mayoritas muslim. Negara tidak memaksa anak-anak makan di siang hari, tetapi tetap menjamin hak gizi mereka.
“Makanannya dibagikan di sekolah, dibawa pulang, dan dikonsumsi saat berbuka,” ujar Dadan, Senin (19/1/2026).
Menu MBG selama Ramadhan disiapkan dalam bentuk makanan siap santap dengan daya tahan hingga 12 jam, sehingga tetap aman dan layak konsumsi saat waktu berbuka tiba.
Sementara itu, di daerah yang mayoritas tidak menjalankan ibadah puasa, pola distribusi MBG tetap berjalan normal tanpa perubahan mekanisme.
BGN Klaim Tak Ada Diskriminasi Penerima
BGN menegaskan, perubahan mekanisme bukan bentuk pengurangan layanan. Semua kelompok penerima manfaat tetap dilayani, mulai dari:
pelajar, ibu hamil, ibu menyusui,
hingga balita.
“Semua diutamakan. Yang berbeda hanya mekanismenya, bukan haknya,” tegas Dadan.
Pernyataan ini sekaligus menepis anggapan bahwa MBG akan dikendurkan selama bulan puasa.
Target Ambisius dan Anggaran Raksasa
Di balik penyesuaian teknis Ramadhan, BGN memasang target besar. Tahun 2026, program MBG ditargetkan menjangkau 82,9 juta penerima manfaat.
Dadan bahkan optimistis target itu bisa dirampungkan hanya dalam waktu lima bulan.
“Insya Allah Mei sudah selesai,” katanya.
Optimisme itu ditopang oleh percepatan penambahan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG di berbagai daerah.
Untuk mendukung target tersebut, pemerintah menggelontorkan anggaran sangat besar:
Rp 268 triliun pagu utama,
ditambah Rp 67 triliun dana cadangan,
sehingga total anggaran MBG 2026 mencapai Rp 335 triliun.
Catatan Kritis Ronggolawe News
Skema MBG saat Ramadhan menunjukkan upaya negara menyesuaikan kebijakan sosial dengan realitas kultural dan keagamaan.
Namun, tantangan sesungguhnya terletak pada pengawasan mutu makanan, keamanan pangan selama 12 jam penyimpanan, serta ketepatan distribusi di lapangan.
Anggaran besar dan target masif menuntut tata kelola yang presisi. Tanpa pengawasan ketat, niat baik bisa berubah menjadi beban baru—baik bagi negara maupun penerima manfaat.
Ronggolawe News akan terus mengawal implementasi MBG, bukan dari podium seremonial, tetapi dari dapur, sekolah, dan meja makan rakyat.
Reportase Media Ronggolawe News
Mengabarkan dengan Nurani, Menguji dengan Fakta





























