Opini – Ronggolawe News
Oleh : Anto Sutanto
Lukisan ini bukan sekadar karya visual. Ia adalah pernyataan sikap. Di tengah kanvas yang penuh tekanan, seorang jurnalis digambarkan memegang kamera—alat sederhana yang dalam realitas sering kali menjadi senjata paling ditakuti oleh kekuasaan. Dari lensa itulah kebenaran berusaha diselamatkan.
Di sisi lain, terlihat sosok yang mulutnya dibungkam.
Simbol ini terlalu nyata untuk diabaikan. Ia menggambarkan bagaimana kebebasan pers kerap dihadapkan pada ancaman: intimidasi, tekanan, bahkan pembungkaman sistematis. Dalam ruang yang sama, terdapat narasi tentang “proyek fiktif”, uang, dan kekuasaan—sebuah potret yang merefleksikan praktik gelap yang kerap menjadi objek liputan jurnalisme investigatif.
Pesan utama dari visual ini sangat tegas: pers bukan alat kekuasaan. Pers adalah alat kontrol. Ketika media tunduk pada kepentingan tertentu, maka yang runtuh bukan hanya independensi, tetapi juga hak publik untuk mengetahui kebenaran.
Tulisan “menulis adalah perlawanan” yang tergambar dalam karya tersebut bukanlah slogan kosong. Ia adalah realitas yang dihadapi banyak jurnalis. Di lapangan, kerja jurnalistik sering kali berhadapan langsung dengan risiko—baik secara fisik, hukum, maupun psikologis. Namun, dalam situasi itulah integritas diuji.
Kebebasan pers sejatinya bukan milik wartawan semata. Ia adalah hak masyarakat. Ketika pers dibungkam, maka suara rakyat ikut dipadamkan. Informasi menjadi bias, kebenaran dikaburkan, dan keadilan menjadi sulit dijangkau.
Lukisan ini juga mengingatkan bahwa ancaman terhadap pers tidak selalu datang secara terang-terangan. Ia bisa hadir dalam bentuk halus: intervensi kepentingan, tekanan ekonomi, hingga manipulasi narasi. Dalam kondisi seperti ini, tantangan terbesar bukan hanya melawan kekuasaan, tetapi juga menjaga keberanian untuk tetap jujur.
Momentum Hari Kebebasan Pers seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Ia harus menjadi refleksi. Apakah pers hari ini benar-benar bebas? Ataukah hanya tampak bebas di permukaan, namun terikat di balik layar?
Ronggolawe News memandang bahwa kebebasan pers adalah fondasi demokrasi yang tidak bisa ditawar. Tanpa pers yang merdeka, pengawasan terhadap kekuasaan akan lumpuh. Dan ketika itu terjadi, penyimpangan akan tumbuh tanpa kontrol.
Akhirnya, lukisan ini menyampaikan pesan yang sederhana namun kuat: dalam diam, pers mengamati. Dalam tekanan, pers bertahan. Dan dalam risiko, pers tetap menulis.
Sebab pada akhirnya, kebenaran tidak akan pernah benar-benar hilang—selama masih ada yang berani mengungkapnya.
Penulis adalah Pemimpin Redaksi Media Ronggolawe News






















