TUBAN | Ronggolawe News — Pemilihan Ketua RT 01 RW 05 Kelurahan Baturetno, Kecamatan Tuban, Minggu (26/4/2026), menjadi gambaran menarik bagaimana praktik demokrasi masih hidup di level paling bawah masyarakat.
Di tengah banyaknya apatisme publik terhadap proses pemilihan formal, warga RT 01 RW 05 justru menunjukkan partisipasi aktif. Berdasarkan absensi resmi panitia, sebanyak 52 warga hadir dan menggunakan hak pilihnya dalam musyawarah pemilihan Ketua RT periode 2026–2031.
Dua nama maju dalam pemilihan tersebut, yakni Mujiono dan Andik Iswahyudi. Dari hasil penghitungan suara terbuka, Mujiono memperoleh 19 suara, sedangkan Andik Iswahyudi unggul dengan 33 suara.
Total suara yang masuk sesuai dengan jumlah kehadiran warga, sehingga tidak ditemukan selisih antara daftar hadir dan hasil penghitungan.
Meski hanya berada di lingkup RT, proses ini memuat seluruh unsur demokrasi: penjaringan calon, penyampaian visi-misi, pemungutan suara langsung, hingga penetapan hasil yang dituangkan dalam berita acara resmi.
Ketua panitia pelaksana, Anto Sutanto, menyebut pemilihan ini menjadi indikator positif meningkatnya kesadaran warga terhadap tata kelola lingkungan.
“Proses demokrasi di tingkat RT ini sudah luar biasa. Warga hadir, berpartisipasi, dan menentukan pilihan secara langsung. Ini bukan sekadar memilih ketua RT, tetapi membangun budaya keterlibatan masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Kelurahan Baturetno Arin Naningrum, SE, yang diwakili oleh Faishol Fadli dan Ardiyanto Wawan Pudjiharto, menyampaikan bahwa pihak kelurahan mengapresiasi jalannya pemilihan yang berlangsung tertib dan transparan.
“Kami mengapresiasi partisipasi warga yang cukup tinggi. Proses ini menunjukkan bahwa kesadaran demokrasi di lingkungan masyarakat masih terjaga dengan baik. Harapan kami, ketua RT terpilih dapat menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab dan mengedepankan kepentingan warga,” ungkap perwakilan kelurahan.
Namun di balik suksesnya agenda tersebut, terdapat pesan yang lebih dalam: demokrasi tidak boleh berhenti pada seremoni administratif. Ketua RT terpilih ke depan dituntut tidak hanya sah secara suara, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan riil warga, mulai dari pelayanan administrasi, keamanan lingkungan, kebersihan, hingga pemberdayaan sosial.
Investigasi Ronggolawe News mencatat bahwa tantangan terbesar pasca pemilihan justru terletak pada konsistensi realisasi janji kepemimpinan.
Tidak sedikit pemilihan tingkat RT di berbagai wilayah berakhir hanya sebagai seremonial pergantian kepengurusan tanpa perubahan nyata dalam pelayanan lingkungan, transparansi pengelolaan iuran, maupun penyelesaian persoalan sosial warga.
Karena itu, kemenangan Andik Iswahyudi bukanlah garis akhir, melainkan titik awal pembuktian.
Publik RT 01 RW 05 kini menunggu, apakah kepemimpinan baru benar-benar mampu membawa perubahan konkret, atau sekadar mengulang pola lama yang kerap menjadikan demokrasi lingkungan berhenti di atas kertas berita acara.
Dokumen yang diperoleh Ronggolawe News juga menunjukkan struktur kepengurusan RT telah dibentuk lengkap, mulai sekretaris, bendahara, hingga seksi-seksi bidang pembangunan, sosial, pemberdayaan perempuan, dan pemuda.
Artinya, tantangan berikutnya bukan lagi soal kemenangan, melainkan pembuktian kerja.
Pemilihan RT kerap dipandang sebagai agenda kecil. Padahal dari ruang-ruang sempit seperti inilah kualitas demokrasi sesungguhnya diuji: apakah kepemimpinan lahir dari partisipasi, transparansi, dan legitimasi warga, atau hanya formalitas tahunan tanpa arah.
RT 01 RW 05 Baturetno setidaknya telah menunjukkan satu hal penting: demokrasi yang sehat justru dimulai dari lingkungan paling dekat dengan masyarakat.
Redaksi mencatat: kemenangan dalam pemilihan hanyalah pintu masuk. Warga kini menunggu konsistensi program dan akuntabilitas pengurus baru selama lima tahun ke depan.
Ronggolawe News akan terus mengawal jalannya kepemimpinan baru ini sebagai bagian dari kontrol sosial terhadap tata kelola pemerintahan di level paling bawah.
Reportase Media Ronggolawe News mengabarkan






















