Oleh: Anto Sutanto
Pemimpin Redaksi Media Ronggolawe News
Gelombang demonstrasi yang berujung pada bentrokan, kerusuhan, bahkan duka, bukanlah peristiwa spontan yang muncul dari ruang kosong. Ia lahir dari akumulasi kekecewaan rakyat terhadap rezim yang kian hari kian menunjukkan wajah kemunafikan. Janji manis saat kampanye kini berubah menjadi pahit getir dalam kenyataan sehari-hari: harga kebutuhan pokok melambung, kesenjangan sosial semakin melebar, dan praktik korupsi masih merajalela.
Retorika Tanpa Realita
Penguasa begitu piawai beretorika di podium: tentang pembangunan, kemajuan, kesejahteraan. Namun, realitas di lapangan berbicara sebaliknya. Jalanan rusak, sekolah reyot, layanan kesehatan jauh dari layak, sementara elit politik sibuk memperkaya diri. Kata-kata “demi rakyat” hanya jadi mantra kosong untuk melanggengkan kekuasaan.
Rakyat Kehilangan Saluran Aspirasi
Ketika ruang demokrasi dipersempit, kritik dibungkam, dan aparat lebih sibuk menjaga kepentingan penguasa ketimbang mengayomi rakyat, maka demonstrasi menjadi pilihan terakhir. Tetapi apa balasan pemerintah? Gas air mata, pentungan, bahkan peluru. Aparat yang seharusnya menjadi pengayom justru tampil sebagai algojo.
Ledakan yang Tak Terelakkan
Rakyat tidak akan selamanya diam. Kesabaran ada batasnya. Ketika suara tak lagi didengar, maka jalanan akan bicara. Gedung-gedung terbakar bukan sekadar simbol anarkis, tetapi alarm keras bahwa bangsa ini sedang berada di ujung kesabaran.
Kemunafikan yang Harus Dihentikan
Tidak ada yang lebih memuakkan selain melihat penguasa berpura-pura peduli, sementara kebijakan hanya menguntungkan segelintir elit. Inilah kemunafikan yang memicu amarah rakyat. Rezim harus berhenti mempermainkan kesabaran publik dengan propaganda murahan.
Jalan Keluar: Keberpihakan Nyata
Pemerintah harus segera melakukan koreksi total: hentikan kekerasan aparat, buka ruang dialog sejati, tindak tegas korupsi tanpa pandang bulu, dan wujudkan kebijakan yang benar-benar berpihak pada rakyat kecil. Jika tidak, rakyat akan mengambil alih kendali dengan caranya sendiri—dan sejarah sudah berkali-kali membuktikan, rezim yang berkhianat pada rakyat akan tumbang pada waktunya.
Situasi saat ini menggambarkan situasi chaos—demo besar di berbagai kota, bentrokan dengan aparat, kerusakan fasilitas umum, hingga gedung pemerintah terbakar. Itu bisa menjadi tanda betapa tingginya frustrasi masyarakat terhadap pemerintah.
Kalau ditarik dalam kerangka opini/jurnalisme kritis, poin yang bisa diangkat antara lain:
- Akar Masalah
Kesenjangan antara janji politik dan realitas hidup rakyat (ekonomi, harga kebutuhan pokok, pendidikan, kesehatan).
Maraknya praktik korupsi, nepotisme, dan lemahnya penegakan hukum.
Rasa tidak adil karena aparat sering keras pada rakyat kecil, tapi lembut pada elite.
- Ledakan Sosial
Demonstrasi bukan muncul tiba-tiba, tapi akumulasi kekecewaan panjang.
Rakyat merasa tidak lagi punya saluran aspirasi yang sehat, sehingga jalanan jadi pilihan.
- Konsekuensi Politik
Legitimasi pemerintah kian runtuh.
Aparat semakin kehilangan kepercayaan publik.
Potensi instabilitas nasional bila tidak segera ada langkah solutif.
- Tuntutan Rakyat
Transparansi dan keadilan hukum.
Perbaikan ekonomi nyata, bukan sekadar retorika.
Penghentian kekerasan aparat terhadap warga sipil.