Tuban, Ronggolawe News – Kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto dalam agenda Panen Raya Jagung Nasional di Desa Tuwiri Wetan, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, Sabtu (16/5/2026), berlangsung meriah dan penuh pengamanan ketat. Ribuan warga memadati area kegiatan untuk menyambut kedatangan orang nomor satu di Indonesia tersebut.
Namun di balik gegap gempita agenda ketahanan pangan nasional itu, muncul suara keresahan dari sejumlah pesanggem atau penggarap lahan Perhutani yang mengaku kehilangan area garapan mereka akibat proyek penataan lokasi kunjungan Presiden.
Presiden tiba di Tuban menggunakan helikopter dan mendarat di Lapangan Desa Pucangan, Kecamatan Montong, sebelum melanjutkan perjalanan darat menuju lokasi panen raya jagung.
Kunjungan tersebut turut didampingi Kapolri Listyo Sigit Prabowo, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, serta Panglima TNI Agus Subiyanto.
Baca juga : https://ronggolawenews.com/prabowo-tinjau-benih-jagung-bhayangkara/
Di lokasi utama kegiatan, Presiden meninjau area panen raya, stan hasil pertanian, hingga produk olahan jagung hasil program ketahanan pangan nasional. Suasana pengamanan terlihat sangat ketat dengan penjagaan personel gabungan TNI-Polri di sejumlah titik strategis.
Namun beberapa ratus meter dari pusat acara, kondisi berbeda justru dirasakan warga pesanggem di kawasan petak 57e RPH Merakurak, BKPH Merakurak, KPH Tuban.
Lahan yang sebelumnya digarap warga untuk menanam kacang tanah mendadak berubah menjadi area terbuka setelah diratakan alat berat untuk kebutuhan parkir kendaraan tamu dan helipad alternatif.
Sejumlah pohon jati ditebang dan area dipadatkan menggunakan material semen reject. Aktivitas alat berat bahkan masih terlihat berlangsung sehari sebelum kedatangan Presiden.
Para pesanggem mengaku tidak pernah dilibatkan ataupun diberi pemberitahuan sejak awal proses penataan kawasan tersebut dilakukan.
Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), Jaswadi, mengaku terkejut saat mengetahui lahan garapan yang selama ini dikelola warga tiba-tiba diratakan.
“Saya baru dipanggil setelah lahan sudah diratakan. Sebelumnya tidak ada pembicaraan dengan kami,” ujarnya.
Menurutnya, dirinya telah mengeluarkan biaya pribadi untuk membeli batu umpak sebagai penahan tanah agar lahan tidak longsor saat musim hujan. Namun material tersebut kini hilang tertimbun proyek penataan.
Kemarin saya beli batu umpak sendiri. Sekarang semuanya hilang setelah lahan diratakan,” keluhnya.
Pesanggem sendiri merupakan warga penggarap lahan milik Perhutani melalui sistem kerja sama pengelolaan lahan. Dari area tersebut, banyak warga menggantungkan kebutuhan ekonomi keluarga mereka.
Di sisi lain, pihak SIG membenarkan adanya bantuan material semen reject untuk mendukung persiapan lokasi kegiatan Presiden. Bantuan itu disebut diberikan atas permintaan aparat kepolisian.
Baca juga : https://ronggolawenews.com/prabowo-panen-jagung-di-tuban/
Meski memahami pentingnya agenda kenegaraan dan program ketahanan pangan nasional, warga berharap ada perhatian terhadap nasib masyarakat kecil yang
terdampak langsung akibat penataan kawasan tersebut.
“Kalau memang demi negara kami paham. Tapi minimal ada perhatian atau ganti rugi. Kami ini hanya rakyat kecil yang hidup dari lahan itu,” ujar salah satu pesanggem.
Kunjungan Presiden di Tuban memang menjadi momentum besar bagi penguatan sektor pertanian nasional. Namun di balik suksesnya acara seremonial dan antusiasme ribuan warga, terselip pertanyaan tentang keberpihakan terhadap masyarakat kecil yang justru kehilangan ruang penghidupan demi persiapan agenda negara.
Dua reporter Media Ronggolawe News, Hulman Sigalingging dan Tariyono, melakukan peliputan langsung di lapangan sejak kedatangan Presiden hingga kondisi kawasan pesanggem terdampak proyek penataan lokasi kegiatan.
Headline News – Reportase Media Ronggolawe News.





















