SURAKARTA, Ronggolawe News – Langit Surakarta seolah menjadi saksi lahirnya babak baru perjalanan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Upacara adat Hajad-Dalem Gunungan Garebeg Besar dalam rangka Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, Kamis (28/5/2026), tidak sekadar menjadi ritual budaya tahunan, tetapi juga momentum bersejarah yang menandai penampilan perdana Sinuhun Paku Buwono XIV Hangabehi dalam prosesi kebesaran kerajaan.
Di tengah semarak iring-iringan prajurit, gunungan, dan ratusan abdi dalem, perhatian publik tertuju pada sosok Sinuhun PB XIV yang tampil di Topengan Maligi bersama jajaran resmi keraton.
Penampilan tersebut menjadi simbol kuat bahwa roda kepemimpinan Keraton Surakarta memasuki fase baru dengan dukungan yang semakin nyata dari berbagai elemen masyarakat adat Mataram.
Suasana sakral semakin terasa ketika musik penghormatan dari pasukan prajurit kraton menggema di halaman Pendapa Sasana Sewaka. Prosesi yang dipimpin Pengageng Sasana Wilapa, GKR Wandansari Koes Moertiyah atau yang akrab disapa Gusti Moeng, berjalan sesuai tata protokol kebesaran kerajaan yang selama ini menjadi identitas budaya Kasunanan Surakarta.
Namun yang paling menarik perhatian adalah kehadiran salah satu tokoh penting dari keluarga besar Mataram, yakni GBPH Prabukusumo dari Keraton Yogyakarta. Kehadiran beliau bersama keluarga dalam prosesi tersebut dinilai memiliki makna simbolik yang mendalam.
Momen saling memberi hormat antara Sinuhun PB XIV Hangabehi dan GBPH Prabukusumo menjadi pemandangan yang menyentuh sekaligus sarat pesan persaudaraan. Dua tokoh dari rumpun besar Mataram itu seakan menunjukkan bahwa ikatan sejarah dan budaya masih terjalin erat di tengah dinamika zaman.
Bagi banyak kalangan adat, kehadiran GBPH Prabukusumo bukan sekadar kunjungan biasa. Kehadirannya dianggap sebagai bentuk penghormatan sekaligus dukungan moral terhadap perjalanan kepemimpinan Sinuhun PB XIV yang baru memasuki era pemerintahannya.
Prosesi Garebeg Besar tahun ini melibatkan sekitar 600 peserta dari berbagai unsur masyarakat adat dan organisasi Pakasa yang berasal dari Jawa Tengah maupun Jawa Timur. Sebanyak 23 cabang Pakasa turut mengirimkan delegasi sebagai bentuk dukungan terhadap keberlangsungan tradisi Keraton Surakarta.
Meski masih terdapat sejumlah kendala teknis, seperti belum aktifnya kembali Bregada Panyutra yang terdampak pasca insiden tahun 2017, jalannya prosesi tetap berlangsung khidmat dan tertib. Kekurangan personel di beberapa bagian bahkan mampu ditutupi melalui gotong royong para abdi dalem dan relawan budaya yang hadir.
Fakta tersebut justru menunjukkan bahwa semangat pelestarian budaya masih hidup di tengah masyarakat. Dukungan yang datang dari berbagai daerah menjadi bukti bahwa Keraton Surakarta masih memiliki daya ikat emosional yang kuat bagi para pengikut dan pecinta budaya Jawa.
Kirab Gunungan Garebeg Besar akhirnya tiba di halaman Masjid Agung Surakarta sekitar pukul 10.40 WIB. Setelah prosesi serah terima dan doa bersama dilaksanakan, masyarakat yang telah menunggu langsung berebut gunungan sebagai simbol ngalap berkah.
Lebih dari sekadar tradisi, Garebeg Besar tahun ini menjadi penegasan bahwa Keraton Surakarta masih berdiri sebagai pusat nilai, sejarah, dan identitas budaya Jawa.
Penampilan perdana Sinuhun PB XIV Hangabehi dalam upacara kebesaran kerajaan menjadi penanda bahwa estafet kepemimpinan telah bergerak, membawa harapan baru bagi keberlangsungan warisan budaya Mataram di masa depan.
Reportase: Media Ronggolawe News “Tajam, Berani, dan Berbeda.”






















