Tuban | Media Ronggolawe News
Penunjukan Nanik Sudaryati Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) menandai babak baru dalam perjalanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu program strategis nasional yang menjadi prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Di tengah badai persoalan tata kelola, dugaan korupsi, hingga kasus keracunan massal yang sempat mengguncang pelaksanaan program, sosok Nanik kini berada di garis depan untuk memulihkan kepercayaan publik.
Pergantian kepemimpinan BGN terjadi setelah mantan Kepala BGN Dadan Hindayana bersama dua mantan wakilnya, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya, terseret dalam perkara dugaan korupsi yang tengah ditangani Kejaksaan Agung. Situasi tersebut membuat perhatian publik tertuju kepada Nanik yang sebelumnya menjabat Wakil Kepala BGN.
Presiden Prabowo memilih Nanik bukan tanpa alasan. Selama menjabat sebagai wakil kepala, ia dikenal sebagai figur yang tegas dalam melakukan pengawasan, evaluasi, dan inspeksi lapangan terhadap dapur-dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah.
Dari Pengentasan Kemiskinan ke Program Gizi Nasional
Sebelum bergabung dengan BGN, Nanik menjabat sebagai Wakil I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan. Pengalamannya dalam bidang pembangunan sosial dan kesejahteraan masyarakat menjadi salah satu modal penting ketika dipercaya masuk ke dalam struktur BGN.
Pada 17 September 2025, Nanik resmi menjabat sebagai Wakil Kepala BGN. Dalam posisi tersebut, ia banyak terlibat dalam proses evaluasi implementasi MBG yang saat itu sedang berkembang pesat di berbagai wilayah Indonesia.
Menurut Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, salah satu alasan utama Presiden menunjuk Nanik sebagai kepala BGN adalah karena karakter kepemimpinannya yang dikenal disiplin dan tegas dalam mengawasi pelaksanaan program.
Tangis Permintaan Maaf yang Menjadi Sorotan Nasional
Nama Nanik mulai menjadi perhatian publik ketika kasus keracunan makanan dalam program MBG terjadi di sejumlah daerah pada 2025.
Dalam sebuah konferensi pers yang banyak disorot media nasional, Nanik tampil dengan mata berkaca-kaca dan menyampaikan permintaan maaf kepada para siswa dan orang tua yang terdampak.
Momen tersebut menjadi simbol pengakuan tanggung jawab moral dari pimpinan BGN terhadap berbagai kelemahan yang terjadi di lapangan.
Dengan suara bergetar, ia berjanji melakukan perbaikan menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
Sikap terbuka tersebut mendapat respons beragam. Sebagian pihak menilai permintaan maaf itu menunjukkan keberanian dan tanggung jawab, sementara sebagian lainnya meminta agar komitmen tersebut dibuktikan melalui langkah nyata di lapangan.
Menutup Puluhan Dapur Bermasalah
Setelah kasus keracunan mencuat, Nanik mengambil langkah yang tergolong keras.
BGN melakukan evaluasi terhadap puluhan dapur MBG yang dianggap tidak memenuhi standar operasional. Dari hasil pemeriksaan, sebanyak 45 dapur ditemukan memiliki pelanggaran terhadap prosedur keamanan pangan.
Sebanyak 40 dapur kemudian ditutup sementara tanpa batas waktu tertentu sampai seluruh standar keamanan dan kualitas dapat dipenuhi.
Kebijakan ini menunjukkan bahwa BGN mulai menerapkan pendekatan yang lebih ketat terhadap pengelolaan program.
Penutupan tersebut juga menjadi pesan bahwa keberhasilan MBG tidak hanya diukur dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga dari keamanan dan kualitas makanan yang diberikan.
Ultimatum Sertifikasi Dapur
Tidak berhenti pada penutupan dapur bermasalah, Nanik juga mengeluarkan ultimatum kepada seluruh mitra MBG.
Setiap dapur diwajibkan memiliki Sertifikat Layak Higiene Sanitasi (SLHS), sertifikat halal, serta sertifikat kelayakan air.
Mitra yang gagal memenuhi persyaratan tersebut dalam batas waktu yang ditentukan terancam kehilangan kontrak kerja sama dengan BGN.
Selain itu, Nanik juga mendorong profesionalisasi dapur MBG dengan mewajibkan keberadaan chef bersertifikat sebagai bagian dari sistem pengawasan mutu makanan.
Langkah tersebut dinilai sebagai upaya memperkuat standar keamanan pangan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan program.
Empat Prioritas Besar Pembenahan MBG
Setelah resmi menjabat sebagai Kepala BGN, Nanik langsung mengumumkan empat agenda prioritas yang akan menjadi fokus utama lembaganya.
1. Efisiensi dan Ketepatan Sasaran
BGN akan melakukan penataan ulang penerima manfaat agar bantuan gizi benar-benar menjangkau kelompok paling membutuhkan.
Perhatian khusus diberikan kepada ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan anak-anak usia sekolah dasar yang berada dalam masa emas pertumbuhan.
2. Moratorium Dapur Baru
Nanik menghentikan sementara pembangunan dapur MBG baru.
Langkah ini dilakukan untuk mengevaluasi distribusi dapur yang selama ini dianggap terlalu terkonsentrasi di wilayah perkotaan dan aglomerasi.
3. Pembenahan Dapur Eksisting
Seluruh dapur yang sudah beroperasi akan dievaluasi ulang.
Dapur yang tidak memenuhi standar keamanan pangan, kualitas layanan, maupun kompetensi sumber daya manusia akan dikenai sanksi hingga penghentian operasional.
4. Perluasan Layanan ke Wilayah 3T
BGN akan memperluas jangkauan program ke daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Namun pendekatan yang digunakan tidak selalu membangun dapur baru, melainkan memanfaatkan fasilitas yang sudah tersedia melalui skema kolaborasi dengan pemerintah daerah, dunia usaha, CSR, hingga lembaga sosial.
Tantangan Berat Menanti
Meski membawa semangat reformasi, jalan yang harus ditempuh Nanik tidaklah mudah.
Selain harus memastikan jutaan penerima manfaat tetap mendapatkan layanan, ia juga menghadapi tekanan akibat penyidikan dugaan korupsi yang menyeret mantan pimpinan BGN.
Kejaksaan Agung bahkan membuka peluang memeriksa siapa saja yang dianggap mengetahui proses pengelolaan program MBG, termasuk Nanik dalam kapasitasnya sebagai saksi apabila diperlukan penyidik.
Di sisi lain, publik menaruh harapan besar agar program yang menyerap anggaran ratusan triliun rupiah tersebut dapat berjalan lebih transparan, profesional, dan bebas dari praktik penyimpangan.
Menentukan Masa Depan MBG
Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu proyek sosial terbesar dalam sejarah Indonesia modern. Karena itu, keberhasilan atau kegagalannya akan sangat menentukan kualitas pembangunan sumber daya manusia Indonesia di masa depan.
Kini, Nanik Deyang berada di titik krusial. Ia tidak hanya dituntut membenahi sistem yang sedang bermasalah, tetapi juga membuktikan bahwa BGN mampu bangkit dari berbagai kontroversi yang terjadi.
Jika reformasi tata kelola, pengawasan, dan keamanan pangan benar-benar berjalan efektif, maka kepercayaan publik terhadap Program Makan Bergizi Gratis berpeluang pulih.
Namun jika pembenahan gagal dilakukan, maka tantangan yang dihadapi BGN akan semakin besar dan dapat mempengaruhi keberlangsungan program strategis nasional tersebut.
Reporter: Media Ronggolawe News mengabarkan
Artikel ini disusun dengan gaya feature investigatif dan analisis kebijakan agar mudah dipahami pembaca umum sekaligus memberikan gambaran menyeluruh mengenai rekam jejak Nanik S. Deyang dan tantangan yang dihadapinya sebagai Kepala BGN.






















