TUBAN, Ronggolawe News – Kabupaten Tuban kembali mencatat sejarah dalam pembangunan sumber daya manusia. Sebanyak 256 peserta didik dari Kabupaten Tuban dan Bojonegoro resmi memulai perjalanan pendidikan melalui Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sekolah Rakyat Terintegrasi I Kabupaten Tuban, sebuah program nasional yang digagas Presiden RI Prabowo Subianto untuk memperluas akses pendidikan berkualitas bagi masyarakat.
Program pendidikan berasrama tersebut tidak sekadar menjadi tempat belajar, tetapi diproyeksikan sebagai model pembinaan karakter, peningkatan kualitas pendidikan, hingga penguatan gizi anak sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.
Pembukaan MPLS yang berlangsung pada Kamis (30/7/2026) dihadiri langsung Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky. Dalam sambutannya, Bupati menegaskan bahwa keberhasilan menghadirkan Sekolah Rakyat bukan hanya pembangunan fisik semata, melainkan keberhasilan mengubah pola pikir masyarakat terhadap pentingnya pendidikan.
Menurutnya, proses meyakinkan keluarga calon peserta didik agar bersedia mengikuti pendidikan berasrama membutuhkan kerja keras yang melibatkan banyak pihak, mulai dari pemerintah daerah, tenaga pendamping hingga unsur masyarakat.
“Mengubah budaya dan cara pandang masyarakat bukan pekerjaan mudah.
Banyak pihak bekerja tanpa mengenal waktu untuk memberikan pemahaman kepada para orang tua agar anak-anak mereka memperoleh kesempatan pendidikan terbaik,” ujar Aditya Halindra Faridzky.
Pada Tahun Ajaran 2026/2027, Sekolah Rakyat Terintegrasi I Tuban menempati gedung permanen di kawasan Jalan Mondokan, Kabupaten Tuban. Sekolah ini melayani jenjang SD, SMP, dan SMA bagi peserta didik asal Tuban, serta menerima 60 siswa tingkat SMA dari Kabupaten Bojonegoro.
Dengan demikian, total peserta didik yang mengikuti pendidikan mencapai 256 orang.
Pendidikan, Gizi, dan Karakter Ditanggung Negara
Bupati yang akrab disapa Mas Lindra menjelaskan bahwa seluruh kebutuhan pendidikan para siswa dipenuhi oleh negara.
Mulai dari seragam, perlengkapan belajar, tempat tinggal di asrama, hingga kebutuhan konsumsi harian seluruhnya disediakan pemerintah. Para siswa memperoleh tiga kali makan setiap hari disertai makanan tambahan guna menunjang kecukupan gizi.
Menurutnya, kebijakan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berupaya meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi juga memperhatikan kualitas kesehatan generasi muda sebagai investasi jangka panjang bangsa.
“Seluruh kebutuhan mereka ditanggung negara. Ini bukan hanya tentang sekolah, tetapi bagaimana negara hadir membangun generasi yang sehat, cerdas, dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang,” katanya.
Lebih jauh, Bupati menilai Sekolah Rakyat menjadi ruang pembauran sosial yang mencerminkan semangat persatuan Indonesia. Para siswa berasal dari latar belakang sosial, ekonomi, hingga daerah yang berbeda namun hidup bersama dalam lingkungan yang sama.
Ia berharap pengalaman tersebut mampu membentuk karakter toleran, mandiri, disiplin, serta memiliki wawasan kebangsaan yang kuat.
“Pilot project Sekolah Rakyat Terintegrasi ini merupakan solusi strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia menuju Generasi Emas 2045,” tegasnya.
Khofifah: Tidak Boleh Ada Anak Indonesia yang Tertinggal
Sehari sebelumnya, Rabu (29/7/2026), Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau langsung kesiapan Sekolah Rakyat Terintegrasi I Tuban bersama Bupati Tuban, Wakil Bupati Tuban, jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Timur, perwakilan Kementerian Sosial, serta sejumlah pejabat lainnya.
Kedatangan Gubernur disambut antusias para siswa melalui tepuk Pramuka dan yel-yel penuh semangat. Dalam dialog hangat bersama peserta didik, Khofifah menanyakan berbagai cita-cita mereka, mulai dari ingin menjadi anggota Polri, TNI, hingga profesi lainnya.
Ia memberikan motivasi agar para siswa berani bermimpi besar dan terus belajar dengan sungguh-sungguh.
Kepada para orang tua, Khofifah berpesan agar terus memberikan doa dan dukungan kepada anak-anak selama menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat.
“Doakan putra-putri panjenengan sehat selama belajar di sini dan semoga seluruh cita-citanya dapat tercapai,” tutur Khofifah.
Usai meninjau seluruh fasilitas sekolah, Gubernur Jawa Timur mengapresiasi kualitas sarana dan prasarana yang tersedia. Menurutnya, lingkungan belajar yang nyaman merupakan salah satu faktor penting dalam menciptakan proses pendidikan yang berkualitas.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh fasilitas fisik.
Keberadaan kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, hingga seluruh unsur pendukung harus mampu membangun ekosistem pendidikan yang sehat, humanis, dan berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik.
“Fasilitas yang baik harus diiringi dengan proses pembelajaran yang berkualitas sehingga mampu melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, serta berintegritas,” ujarnya.
Bukti Negara Hadir untuk Anak-anak Rentan
Dalam kesempatan tersebut, Khofifah mengungkapkan bahwa proses menghadirkan peserta didik ke Sekolah Rakyat bukanlah pekerjaan mudah.
Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) bahkan harus mendatangi sebagian keluarga berkali-kali untuk memberikan pemahaman mengenai pentingnya pendidikan berasrama.
Tidak sedikit anak yang selama ini putus sekolah bahkan sudah tidak mengetahui lagi jenjang pendidikan terakhir yang pernah mereka tempuh.
Karena itu, Sekolah Rakyat menjadi instrumen negara untuk mengembalikan hak pendidikan bagi anak-anak dari keluarga rentan.
Dengan mengusung prinsip “No One Left Behind”, pemerintah ingin memastikan tidak ada lagi anak Indonesia yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan akibat keterbatasan ekonomi maupun kondisi sosial.
Investasi SDM Jangka Panjang
Kehadiran Sekolah Rakyat Terintegrasi I Tuban menjadi salah satu langkah konkret pemerintah dalam membangun sumber daya manusia sejak dini.
Program ini tidak hanya memberikan akses pendidikan gratis, tetapi juga membentuk karakter, meningkatkan kualitas kesehatan melalui pemenuhan gizi, serta menanamkan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan berasrama.
Bagi Kabupaten Tuban, keberadaan sekolah tersebut menjadi investasi jangka panjang yang diharapkan mampu melahirkan generasi unggul, adaptif, dan berdaya saing global.
Dengan sinergi antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Tuban, Kementerian Sosial, tenaga pendidik, serta dukungan masyarakat, Sekolah Rakyat diharapkan menjadi model pendidikan inklusif yang mampu menjangkau anak-anak dari kelompok rentan sekaligus menjadi fondasi kuat dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.
Reporter: Redaksi Ronggolawe News mengabarkan























